Meningkatkan Keaktifan Siswa melalui Proyek Kewarganegaraan Antikorupsi di SMK Pawyatan Daha 2 Kediri
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora)
https://journal.literasisains.id/index.php/sosmaniora
DOI: 10.55123/sosmaniora.v3i1.3091
e-ISSN 2829-2340| p-ISSN 2829-2359
Vol. 3 No. 1 (Maret 2024) 47-54
Submitted: January 05, 2024 | Accepted: January 25, 2024 | Published: March 25, 2024
Meningkatkan Keaktifan Siswa melalui Proyek
Kewarganegaraan Antikorupsi di SMK
Pawyatan Daha 2 Kediri
Idang Ramadhan1, Yunita Kusumaningrum2, Hanik Tri Wilujeng3
SMK Pawyatan Daha 2 Kediri, Kota Kediri, Indonesia
Email: , ,
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keaktifan siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Pawyatan Daha 2 Kediri, Kota Kediri. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas model
Kemmis & McTaggart melalui proyek kewarganegaraan yang bermuatan materi antikorupsi. Subyek
penelitian ini adalah siswa kelas XII Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP) 1 sejumlah 35 siswa
yang terdiri dari 1 siswa laki-laki dan 34 siswa perempuan. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara
saturation sampling, di mana seluruh anggota populasi menjadi sampel dalam penelitian. Data dalam
penelitian ini dikumpulan menggunakan teknik observasi, kuisioner, dan dokumentasi. Analisis data yang
yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi proyek kewarganegaraan antikorupsi mampu
meningkatkan keaktifan siswa kelas XII Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP) 1 di SMK
Pawyatan Daha 2 Kediri pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023, hal ini dilihat melalui lima aspek,
yakni memperhatikan pelajaran, kerjasama dan interaksi sosial, menyampaikan usulan/ide, penyelesaian
masalah, kedisiplinan. Aspek yang meningkat secara signifikan adalah memperhatikan pelajaran dan
kedisiplinan. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa menyelaraskan metode pembelajaran,
karakteristik materi, dan karakteristik peserta didik merupakan hal esensial dalam penyusunan rencana
pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Kata Kunci: Keaktifan, Siswa, Proyek Kewarganegaraan, Antikorupsi
Abstract
This study was motivated by the low student activeness at Pawyatan Daha 2 Kediri Vocational High School
(SMK), Kediri City. This research is included in the Kemmis & McTaggart model of classroom action
research through a civic project containing anti-corruption material. The subjects of this study were
students of class XII Office Automation and Governance (OTKP) 1 totaling 35 students consisting of 1 male
student and 34 female students. The sample selection was carried out by saturation sampling, where all
members of the population were sampled in the study. Data in this study were collected using observation,
questionnaire, and documentation techniques. Data analysis used in this research is a descriptive analysis
technique with percentages. The results of this study indicate that the implementation of anti-corruption
citizenship projects can increase the activeness of class XII students of Office Automation and Governance
(OTKP) 1 at SMK Pawyatan Daha 2 Kediri in the odd semester of the 2022/2023 academic year, this is
seen through five aspects, namely paying attention to lessons, cooperation, and social interaction,
submitting proposals/ideas, problem-solving, discipline. The aspects that increased significantly were
paying attention to lessons and discipline. In addition, this study shows that harmonizing learning methods,
material characteristics, and learner characteristics is essential in preparing lesson plans that can increase
student activeness.
Keywords: Activeness, Students, Citizenship Project, Anti-Corruption
Lisensi: Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0)
47
Idang Ramadhan1, Yunita Kusumaningrum2, Hanik Tri Wilujeng3
SOSMANIORA (Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora) Vol. 3 No. 1 (2024) 47 – 54
PENDAHULUAN
Korupsi merupakan penyakit sosial yang merajalela di banyak negara, termasuk Indonesia. Korupsi
dipahami sebagai suatu tindak pidana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau
perekonomian negara (Syamsuddin, 2011). Transparency International mendefinisikan korupsi sebagai
mendefinisikan korupsi sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang dipercayakan untuk keuntungan
pribadi(Global Corruption Report : Education, 2013). Melihat dari pengertian tersebut, dapat dimaknai
bahwa korupsi adalah tindak pidana yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri,
merugikan negara atau perekonomian. Dampak negatif korupsi sangat luas, mencakup aspek ekonomi,
politik, dan sosial. Terlebih lagi, Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) di Indonesia pada tahun 2023
mencapai angka 3,92 dalam rentang skala 0 hingga 5. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan
dengan pencapaian tahun 2022 yang sebesar 3,93 (BPS, 2023). Hal ini memperburuk kondisi Indonesia
yang tak pernah lepas dari tindak korupsi. Maka dari itu dibutuhkan suatu upaya untuk mencegah korupsi
Pendidikan antikorupsi dianggap sebagai langkah preventif yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai
integritas, transparansi, dan akuntabilitas sejak dini. Pendidikan antikorupsi dimaknai sebagai upaya yang
bertujuan untuk mencegah dan memerangi korupsi dengan cara mendorong generasi selanjutnya untuk
meningkatkan sikap menolak setiap bentuk korupsi secara tegas (Darmayani et al., 2022). Pendidikan
antikorupsi tak hanya menjadi sarana mentransfer ilmu pengetahuan (kognitif), tetapi juga berupaya pada
pembentukan sikap (afektif) dan kesadaran moral untuk melawan (psikomotorik) penyimpangan perilaku
korupsi (Wibowo, 2013). Hal ini diperkuat oleh (Rinaldi et al., 2023) yang memaparkan bahwa tujuan dari
pendidikan anti-korupsi adalah mengembangkan pemahaman dan pengetahuan mengenai beragam bentuk
korupsi dan aspek-aspeknya, mengubah persepsi dan sikap terhadap korupsi, serta membentuk
keterampilan dan kecakapan baru yang diperlukan untuk melawan tindakan korupsi.. Hal ini menunjukkan
adanya tiga domain penting yakni, kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Pembelajaran yang baik harusnya menempatkan pengalaman siswa sebagai hal yang penting. Hal ini
disampaikan dengan (Pambudhi et al., 2023), bahwa konsep pendidikan yang berfokus pada pengalaman
siswa dapat memotivasi dan meningkatkan semangat anak, sekaligus membentuk proses pembelajaran yang
lebih mendalam. Salah satu pendekatan dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa adalah
dengan menerapkan proyek kewarganegaraan (Citizenship Project). Proyek kewarganegaraan merupakan
salah satu pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dalam mata pelajaran Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan. Metode ini merupakan strategi pengajaran di mana siswa terlibat dalam
pelaksanaan sebuah proyek yang memiliki manfaat untuk menyelesaikan masalah di masyarakat atau
lingkungan (Sani, 2018). Hal ini dimaksudkan agar siswa aktif terlibat dalam kegiatan dan memiliki
kesempatan yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksa (...truncated)