Nilai-Nilai Budaya Cerita Rakyat Inik Kebayan Pada Masyarakat Dayak Seberuang, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 1 Oktober-Desember 2023 Hal. 82-86
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Nilai-Nilai Budaya Cerita Rakyat Inik Kebayan Pada Masyarakat Dayak
Seberuang, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang
Stephanus Yogaa, Parlindungan Nadeakb, Agus Syahranic
Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Untan Pontianak
ABSTRACT
Inik Kebayan folklore is a story that lives in the midst of the Dayak Seburuang community. This story involves three main
characters, namely Sekling and Kumang as husband and wife, and Grandmother Kebayan. There is also a side character
named Temprung, who is Sekling's brother. In addition, there are several supporting characters who only appear once in the
story, such as a woodcutter, a rubber cutter, a man who burns the fields, a rice harvester, a grass puller, a rice pounder, and
a person who cooks new rice, which gives Kumang directions about Sekling's whereabouts. Inik Kebayan folklore includes
three main cultural elements, namely man's relationship with God, man's relationship with nature, and man's relationship
with man. Man's relationship with God is reflected in the piety and devotion shown by Kumang, who faithfully follows the
instructions of Nenek Kebayan, a figure who is clearly not human. The relationship between humans and nature is seen in
the wise way humans utilize natural resources as a form of gratitude to God. Man's relationship with man in this story is
shown through the attitude of helping, harmony, wisdom, and compassion. Throughout the story, Inik Kebayan tells of the
cultural values upheld by the Seburuang Dayak community, including piety to God, wisdom in utilizing natural resources, as
well as helpfulness, harmony, wisdom, and compassion between people. The story provides a deep understanding of life and
the values held by the Seburuang Dayak community.
Keywords: Folklore, Dayak Seburuang, Cultural Values
PENDAHULUAN
Dayak Seberuang merupakan suatu kelompok suku Ibanik Group yang merupakan salah satu suku yang
mendiami wilayah di Kabupaten Sintang.Setiap masyarakat Dayak Seberuang di wilayah tersebut bertutur
dalam bahasa Dayak Seberuang. Masyarakat Dayak Seberuang memiliki keanekaragaman budaya. Budaya ini
merupakan ciri khas yang membedakannya dengan kelompok masyarakat lainnya sehingga menjadi identitas
kelompok mereka. Salah satu bentuk budaya tersebut adalah sastra lisan (folklor).
Sastra lisan (folklor) selalu hidup di tengah masyarakat Dayak Seberuang. Sastra lisan masyarakat ini
sangat kaya dan beragam, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas. Sastra lisan Dayak Seberuang tidak
semata-mata untuk menghibur, melainkan cerminan masyarakat karena memiliki nilai-nilai kehidupan yang
baik. Jadi, nilai-nilai kehidupan masyarakat Dayak Seberuang dapat dipahami melalui sastra lisannya.
Kenyataannya, arus modernisasi yang terjadi sebagai bentuk perubahan zaman telah mempengaruhi pola pikir
masyarakat Dayak Seberuang. Pengaruh ini banyak memberi dampak positif pada masyarakat, tetapi tidak
sedikit pula pengaruh ini memberikan dampak negatif pada masyarakat. Salah satu dampak negatifnya adalah
mencabut akar budaya yang ada pada masyarakat. Saat ini sebagian besar masyarakat Dayak Seberuang
terutama kaum remajanya sudah tidak berminat untuk mempelajari dan melestarikan sastra lisannya. Akhirnya,
dari berbagai genre sastra lisan itu, terlihat fenomena genre yang punah (genre yang datanya hanya didapat
berupa informasi dari orang-orang tua dilapangan), genre yang hampir mati (yang sekarang pengaktifnya satu
atau dua orang), dan genre yang terus hidup. Sastra lisan merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang
masyarakat yang masih belum diperhatikan Bentuk kebudayaan masyarakat ini masih ada yang belum
diperhatikan, yaitu sastra lisan. Salah satu pengalian dan pengkajian tradisi dalam masyarakat Dayak Seberuang
dapat dilakukan melalui penggalian dan pengkajian sastra lisannya. Oleh sebab itu, peneliti berharap melalui
penelitian ini dapat menggali dan mengkaji tradisi masyarakat Dayak Seberuang. Selain itu, penelitian ini
merupakan bagian dari usaha peneliti untuk menghargai dan melestarikan sastra lisannya.
Masyarakat Dayak Seberuang memiliki genre sastra lisan, yaitu prosa lama (meliputi legenda dan
dongeng), sajak atau puisi rakyat (berupa mantra), ungkapat tradisional (pribahasa), dan pernyataan tradisional
(teka-teki). Meskipun sudah didesak oleh kehidupan modern dan kemajuan Iptek, sastra lisan tersebut masih
dapat ditemukan di Desa Sekubang, kabupaten Sintang terutama cerita rakyat.
Suku Dayak Seberuang di Kecamatan Sepauk menyebar di beberapa kampung, di antaranya Desa
Sekubang, Desa Entajak, dan Desa Bangun. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pelestarian cerita rakyat
Dayak Seberuang berada di wilayah-wilayah tersebut, tidak hanya di Desa Sekubang. Penelitian ini dilakukan di
wilayah pemukiman suku Dayak Seberuang, Dusun Temanang, Desa Sekubang untuk membatasi wilayah
penelitian agar tidak terlalu luas. Alasan peneliti memilih Desa Sekubang sebagai lokasi penelitian karena
bahasa yang digunakan belum tercampur dengan bahasa lain dan didukung kondisi masyarakan yang masih asli,
sehingga dapat dipastikan bahwa cerita rakyat yang beredar tidak dipengaruhi oleh cerita-cerita dari luar,
sehingga keaslian cerita masih sangat terjaga.
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.02 No. 01 Oktober – Desember (2023)
82
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 2 No. 1 Oktober-Desember 2023 Hal. 82-86
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Cerita rakyat Dayak Seberuang merupakan tradisi sastra lisan yang berkembang di tengah masyarakat yang
menampilkan kekhasan masyarakat Dayak Seberuang dari segi bahasa maupun budayanya. Masyarakat Dayak
Seberuang percaya bahwa dulunya terjadi banyak peristiwa-peristiwa menakjubkan dan dianggap sebagai kisah
perjalanan kehidupan nenek moyang suku mereka. Cerita rakyat, bagi masyarakat Dayak Seberuang
disampaikan pada saat menjelang tidur atau pada saat kegiatan berladang, hal ini dilakukan dengan anggapan
dapat dijadikann hiburan dan mengurangi rasa lelah saat menjalani aktivitas berladang.
Peneliti menggunakan pendekatan sosiologi sastra sebagai pisau untuk membedah nilai budaya pada cerita
rakyat Inik Kebayan kerana peneliti melihat kecocokan antara objek dan pendekatan sosiologi sastra.
Pendekatan sosiologi sastra yang digunakan dalah sosiologi karya sastra. Sebagaimana diketahui, bahwa ada 3
kategori sosiologi sastra. Pertama, sosiologi pengarang. Kedua, sosiologi pembaca. Ketiga, sosiologi karya
sastra.
Adapun penggunan teori strukturalisme (unsur pembangun karya sastra) adalah hal yang wajib dilakukan.
Tidak mungkin melakukan penelitian sebelum membedah strukturnya. Walaupun mencantumkan teori
strukturalisme, Peneliti tetap berfokus pada fokus penelitian yaitu penggalian nilai-nilai kebudayaan yang
terkandung pada cerita rakyat Inik Kebayan.
Berdasarkan latar bel (...truncated)