Kajian Etnobotani Loloh dan The Herbal Lokal Sebagai Penunjang Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Tradisional Penglipuran Kabupaten Bangli-Bali
Vol. 7 No. 2
Jurnal Pendidikan Biologi Undiksha
p-ISSN : 2599-1450
e-ISSN : 2599-1485
Volume 7 Nomor 2 Tahun 2020
Open Acces : https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPB/index
Kajian Etnobotani Loloh dan The Herbal Lokal Sebagai
Penunjang Ekonomi Kreatif Masyarakat Desa Tradisional
Penglipuran Kabupaten Bangli-Bali
Ni Putu Nadia Pebiana1, Yeni Dina Puspasar2, Resty Mutiara Dewi3, Ida Bagus Putu
Arnyana4
1
Program Studi S1 Biologi, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, Indonesia
Program Studi S1 Biologi, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, Indonesia
3
Program Studi S1 Biologi, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali, Indonesia
4
Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali
Indonesia
2
Abstract
Penglipuran Village is a village in Bali that implements ethnobotany which is used as a medicinal plant which
has been inherited in the form of a variety of traditional drinks that make use of typical plants in the village and
has been widely marketed. The traditional drinks they produce are loloh cem-cem, loloh telang, turmeric loloh,
plum fruit loloh and kelor and bawang berlian tea. The purpose of this article is to study the properties needed
in plants used as loloh and herbal teas as well as the benefits of ethnobotany loloh and herbal teas as economic
support as seen from the level of income of the people involved in their production. The writing of this article
was done by taking a sample of snowballs in Penglipuran Village. Data collection techniques used in this study
are: observation techniques, interview techniques, literature study techniques and data analysis using
descriptive qualitative techniques. Data obtained in the field in accordance with the debates reviewed are
described and interpreted qualitatively. The results obtained from this study are some plants that have been
produced by economic products that are designed for local drinks, namely loloh and herbal teas. Using plants
as traditional medicine by the people of Penglipuran Village, has now developed into an effort that provides
economic benefits for the community. Based on the results of the study found three types of local traditional
drinks (loloh) that support the welfare and economy of the Penglipuran Traditional Village community namely
loloh cemcem, loloh telang flowers, and kelba tea (kelor bawang berlian) seen from the results of production in
each transaction and marketing has been quite extensive.
Keywords: ethnobotany; Penglipuran Village; traditional drink; loloh; herbal tea
Abstrak
Desa Penglipuran merupakan salah satu desa di Bali yang mengimplementasikan etnobotani yang dijadikan
sebagai tanaman obat yang telah diwariskan dalam bentuk aneka minuman tradisional yang memanfaatkan
tumbuhan khas desa tersebut dan telah banyak dipasarkan. Minuman tradisional yang mereka hasilkan adalah
loloh cem-cem, loloh telang, kunyit loloh, loloh buah plum dan kelor serta bawang teh ketupat. Artikel ini
bertujuan untuk mempelajari khasiat yang dibutuhkan pada tanaman yang digunakan sebagai loloh dan teh
herbal serta manfaat etnobotani loloh dan teh herbal sebagai penunjang ekonomi dilihat dari tingkat pendapatan
masyarakat yang terlibat dalam produksinya. Penulisan artikel ini dilakukan dengan mengambil sampel bola
salju yang ada di Desa Penglipuran. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
teknik observasi, teknik wawancara, teknik studi pustaka dan analisis data dengan menggunakan teknik
deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh di lapangan sesuai dengan debat yang dikaji dideskripsikan dan
Jurnal Pendidikan Biologi 54
Vol 7 No. 2
diinterpretasikan secara kualitatif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah beberapa tanaman yang telah
dihasilkan produk ekonomi yang didesain untuk minuman lokal yaitu loloh dan teh herbal. Pemanfaatan
tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Desa Penglipuran, kini telah berkembang menjadi upaya
yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan tiga jenis
minuman tradisional daerah (loloh) yang menunjang kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Desa Adat
Penglipuran yaitu loloh cemcem, bunga loloh telang, dan teh kelba (kelor bawang ketupat) dilihat dari hasil
produksi dalam setiap transaksi dan pemasaran sudah cukup luas.
Kata-kata kunci: kata kunci 1; kata kunci 2; kata kunci 3
Pendahuluan
Etnobotani adalah pemanfaatan tumbuhan jenis tertentu oleh suatu etnis atau suku tertentu di suatu daerah.
Kajian etnobotani merupakan kajian yang khas dan juga unik untuk dipelajari maupun dipraktekkan, karena
dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup manusia dan juga lingkungan, misalnya bagaimana
pemanfaatan tumbuhan obat di suatu daerah oleh etnis atau suku tertentu sehingga tumbuhan tersebut menjadi
dilestarikan dan tidak punah (Iskandar, 2016). Dengan memanfaatkan tumbuhan obat yang ada di sekitar
masyarakat, secara langsung atau tidak langsung mempunyai kaitan dengan upaya pelestarian pemanfaatan
sumber daya alam hayati, khususnya tumbuhan obat (Hamid dan Nuryani, 1992).
Pengobatan modern telah berkembang hingga ke daerah terpencil, namun penggunaan tumbuhan sebagai
obat masih tetap diminati masyarakat karena tumbuhan obat pada umumnya mudah didapatkan di lingkungan
sekitar. Pada daerah yang terisolir, pemanfaatan lingkungan terutama tumbuhan untuk pemenuhan kebutuhan
kesehatan seperti untuk obat-obatan tradisional masih sangat tinggi. Contoh pemanfaatan tumbuhan khas oleh
Suku Mentawai di Pulau Siberut Kepulauan Mentawai.
Mereka memiliki kebiasaan menggunakan ranting dari pohon upas (Antiaris toxicaria) dan cabai hutan
(Piper retrofractum) dengan cara ditumbuk sebagai racun pada ujung mata panah. Kebiasaan lainnya yaitu
pembuatan cawat (celana dalam) menggunakan serat pada bagian dalam batang pohon dewasa (Artocarpus sp).
Dalam memenuhi kebutuhan pangan, Suku Mentawai memiliki kebiasaan yaitu memanen sagu (Metroxylon
sagu) yang dilakukan secara tradisional oleh pria dewasa untuk diubah menjadi tepung sagu siap olah.
Di daerah Bali, etnobotani banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat yang sudah diwariskan secara turun
temurun. Di Bali banyak terdapat lontar-lontar usada (dokumen yang ditulis dalam daun lontar terkait
pengobatan) yang membahas berbagai macam tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan misalnya
lontar taru premana. Salah satu desa tradisional di Bali yang erat kaitannya dengan etnobotani adalah Desa
Wisata Penglipuran yang terletak di Kabupaten Bangli. Desa Penglipuran memiliki daya tarik pada pola tata
ruang desa, arsitektur tradisional rumah penduduk, hutan bambu dengan beragam jenis pohon bambu di
dalamnya, adat istiadat masyarakat lokal, makanan dan minuman tradisional, serta hasil kerajinan bambu khas
desa tersebut. Karena keunikan desa tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Bangli menetapkan Desa
Penglipuran sebagai obyek wisata sejak tahun 1993 dan diresmikan sebagai Desa Wisata Pengli (...truncated)