Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Sulawesi Utara
e-CliniC 2025; Vol. 13, No. 2: 202-207
DOI: https://doi.org/10.35790/ecl.v13i2.61019
URL Homepage: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic
Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di
Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Sulawesi Utara
Overview of Antihypertensive Medication Use in Patients with Hypertension at the
Inpatient Department of a Private Hospital in North Sulawesi
Puella Rue,1 Christi D. Mambo,2 Edward Nangoy,2 Octavianus Umboh,3 Diana S.
Purwanto,4 Angelina S. R. Masengi2
1
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado,
Indonesia
2
Bagian Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado,
Indonesia
3
Bagian/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado,
Indonesia
4
Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia
Email:
Received: December 28, 2024; Accepted: March 19, 2025; Published online: March 21, 2025
Abstract: Management of hypertension is conducted to control the blood pressure in patients with
hypertension. There are a variety of antihypertensie agents that can be used in patients with
hypertension. This study aimed to evaluate the pattern of antihypertensive drug use among patients
with hypertension in the Inpatient Ward. This was a retrospective and descriptive study using a crosssectional design. The results showed that the dominant characteristics were female gender (64.29%),
age ≥60 years (71.43%), housewife (51.43%), and completed senior high school education
(34.29%). The most commonly prescribed drugs were amlodipine (25.71%), and the combination
of amlodipine and candesartan (22.86%). In conclusion, the majority of patients with hypertension
are females, aged ≥60 years, working as housewives, and have high school education. The most
frequently used single antihypertensive drug is calcium channel blocker group, specifically
amlodipine, while the combination therapy involve both a calcium channel blocker and an ARB,
namely amlodipine and candesartan.
Keywords: hypertension; antihypertensive drugs
Abstrak: Tatalaksana hipertensi dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol tekanan darah pada
pasien hipertensi. Terdapat bermacam jenis obat antihipertensi yang dapat digunakan pada pasien
hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi
pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan
desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan karakteristik yang dominan ialah jenis kelamin
perempuan (64,29%), usia 60 tahun (71,43%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (IRT) (51,43%),
dan pendidikan terakhir SMA (34,29%). Penggunaan obat terbanyak ialah amlodipin (25,71%), serta
kombinasi amlodipin dan candesartan (22,86%) Simpulan penelitian ini ialah pasien hipertensi
paling banyak terdapat pada jenis kelamin perempuan, kelompok usia 60 tahun, pekerjaan IRT, dan
tingkat pendidikan terakhir SMA. Penggunaan obat antihipertensi tunggal terbanyak dari golongan
antagonis kalsium yaitu amlodipin, sedangkan kombinasi obat antihipertensi ialah antagonis kalsium
dan ARB, yaitu amlodipin dan candesartan.
Kata kunci: hipertensi; obat antihipertensi
202
Rue et al: Penggunaan obat antihipertensi di rumah sakit 203
PENDAHULUAN
Dewasa ini hipertensi telah menjadi penyebab utama kematian global. Hipertensi adalah
kenaikan tekanan darah melebihi 140/90 mmHg karena gangguan pada sistem peredaran darah.1
Kondisi ini terjadi akibat peningkatan volume darah atau penyempitan saluran darah sehingga
memaksa jantung untuk bekerja lebih keras dalam memasok oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh.2
Gejala yang sering kali tidak jelas membuat hipertensi sering disebut sebagai silent killer.3
Pada tahun 2015, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 1,13 miliar
orang di seluruh dunia menyandang hipertensi, menyiratkan bahwa satu dari tiga orang di dunia
mengidap kondisi ini. Proyeksi untuk tahun 2025 memperkirakan jumlah penyandang akan
mencapai 1,5 miliar, dengan dampak kematian yang mencapai 9,4 juta orang akibat komplikasi
hipertensi. Di Asia Tenggara, prevalensi hipertensi mencapai 39,9% pada tahun 2020 menurut
Global Report on Hypertension WHO.4 Di Indonesia, prevalensi hipertensi pada tahun 2018
mencapai 34,1% untuk penduduk berusia 18 tahun ke atas, sedangkan di Sulawesi Utara hingga
tahun 2020, tercatat 27.604 kasus berdasarkan data dari Pusat Statistik Provinsi.5
Hipertensi tidak terkontrol menyebabkan komplikasi serius pada organ tubuh seperti otak,
mata, jantung, ginjal, dan arteri perifer.3 Pengelolaan yang tepat dengan terapi jangka panjang,
baik nonfarmakologi maupun farmakologi, penting untuk mencegah komplikasi dan kematian
akibat hipertensi yang tidak terdeteksi atau tidak diterapi dengan baik.1 Terapi dimulai dengan
pendekatan nonfarmakologi sebelum pemberian obat antihipertensi yang mencakup berbagai
golongan seperti diuretik, -blocker, ACE inhibitor, ARB, dan antagonis kalsium sebagai lini
pertama, serta obat-obat lini kedua seperti -blocker, penghambat saraf adrenergik, agonis -2
sentral, dan vasodilator.6 Tujuan utama dari tatalaksana hipertensi ialah mengontrol tekanan darah
agar tetap dalam batas yang aman dan dianjurkan.3
Terdapatnya berbagai macam obat antihipertensi yang dikonsumsi oeh penyandang
hipertensi mendorong peneliti untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada
pasien hipertensi di salah satu rumah sakit swasta di Sulawesi Utara.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain potong lintang. Pengambilan
data secara retrospektif berupa catatan rekam medik pasien rawat inap periode Januari-Juni 2023
di Instalasi Rawat Inap salah satu rumah sakit swasta di Sulawesi Utara. Populasi penelitian ini
ialah seluruh pasien hipertensi yang dirawat di Instalasi Rawat Inap selama rentang waktu tertentu
dan pemilihan sampel menggunakan total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Data penelitian dideskripsikan menurut karakteristik pasien dan penggunaan obat antihipertensi.
HASIL PENELITIAN
Terdapat 85 pasien hipertensi yang menjalani perawatan di Instalasi Rawat Inap, 70 pasien
memenuhi kriteria inklusi dan 15 pasien dieksklusi. Tabel 1 memperlihatkan karakteristik pasien
pada penelitian. Pasien perempuan (64,29%) lebih banyak daripada pasien laki-laki (35,71%).
Kelompok usia 60 memiliki jumlah terbanyak (71,43%). Ibu Rumah Tangga menjadi pekerjaan
dengan pasien terbanyak (51,43%) serta tingkat pendidikan terakhir SMA (34,29%).
Tabel 1. Karakteristik pasien pada penelitian
Karakteristik pasien
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Kelompok usia (tahun)
20-29
N
(n=70)
%
25
45
35,71
64,29
1
1,43
204 e-CliniC, Volume 13, Nomor 2, 2025, hlm. 202-207
30-59
60
Pekerjaan
Ibu rumah tangga (IRT)
Pensiunan
Petani/Pekebun
Wiraswasta
Lainnya
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Sopir
Tidak bekerja
Tingkat pendidikan terak (...truncated)