Komposisi Musik Katarsis Vokal
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 90-93
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Komposisi Musik Katarsis Vokal
1
1
Tania Rahmawati Hidayat, 2Denden Setiaji, 3Arni Apriani
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
2
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
3
Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya,
Abstrak
Artikel ini membahas pengkaryaan musik kontemporer Katarsis Vokal yang menggunakan suara tubuh manusia sebagai
instrumen utama. Karya ini lahir dari kebutuhan ekspresi emosional melalui eksplorasi bunyi non-konvensional seperti
gumaman, napas berat, dan teriakan. Proses pengkaryaan dilakukan dengan tahapan persiapan, eksplorasi suara,
penyusunan struktur dramaturgis, dan verifikasi karya. Hasil pengkaryaan menunjukkan bahwa eksplorasi vokal bebas
dapat menjadi medium artistik sekaligus ruang katarsis emosional bagi pencipta dan audiens. Selain memberikan
kontribusi pada perkembangan musik kontemporer, karya ini juga menegaskan bahwa suara manusia adalah instrumen
paling otentik untuk menyampaikan emosi terdalam.
Kata Kunci: Katarsis vokal, musik kontemporer, pengkaryaan musik, eksplorasi vokal, ekspresi emosional .
Abstract
This article explores the creation of the contemporary music composition Katarsis Vokal, which utilizes the human voice
as the primary instrument. The work was born from the need for emotional expression through the exploration of nonconventional sounds such as humming, heavy breathing, and screaming. The creative process included stages of
preparation, vocal exploration, dramaturgical structuring, and verification of the work. The results show that free vocal
exploration can serve as both an artistic medium and a space for emotional catharsis for both the creator and the
audience. In addition to contributing to the development of contemporary music, this work emphasizes that the human
voice is the most authentic instrument for conveying deep emotions.
Keywords: Vocal catharsis, contemporary music, musical creation, vocal exploration, emotional expression.
This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license
PENDAHULUAN
Musik telah lama dianggap sebagai medium universal yang mampu menyuarakan pengalaman batiniah
manusia. Dalam konteks etnomusikologi, musik lebih dari sekadar serangkaian nada; ia merupakan
perwujudan emosi, identitas, dan spiritualitas yang terintegrasi dalam kehidupan manusia (Merriam, 1964;
Nettl, 2005). Sejak zaman prasejarah, tubuh manusia telah berfungsi sebagai alat pertama untuk menghasilkan
bunyi melalui tepukan, hentakan, hembusan napas, hingga teriakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa suara
manusia adalah sumber musik paling kuno dan paling autentik dalam mengekspresikan emosi.
Dalam arena musik masa kini, konsep ini semakin ditegaskan oleh kemunculan karya-karya
eksperimental yang menjelajahi vokal melampaui batas-batas tradisional. Penjelajahan terhadap suara tubuh
yang tidak terikat oleh melodi dan harmoni yang baku memberikan kebebasan artistik, membuka peluang baru
dalam proses kreatif. Seperti yang diungkapkan oleh Wishart (1996), suara alami dari tubuh manusia memiliki
kedalaman emosional yang signifikan karena keaslian sumbernya, yang dapat menciptakan pengalaman estetik
sekaligus mendatangkan efek terapeutik.
Ide katarsis, seperti yang diuraikan oleh Aristoteles dalam karya Poetika, melihat seni sebagai alat
untuk membersihkan emosi melalui pengalaman estetik. Dalam kerangka ini, kreasi musik dapat menjadi
sarana sublimasi di mana emosi kuat seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan dapat diekspresikan dalam
bentuk suara. Ini sejalan dengan teori musik psikologis yang mengemukakan bahwa suara manusia memiliki
kemampuan afektif untuk merangsang resonansi emosional, baik bagi penciptanya maupun pendengarnya
(Koelsch, 2010).
Katarsis Vokal muncul dari kebutuhan pribadi penciptanya untuk menyalurkan beban emosional
melalui proses kreatif. Pengalaman akademik yang penuh tekanan dan perjuangan mental di semester terakhir
studi menjadi sumber inspirasi utama. Pencipta pun memilih tubuhnya, terutama suaranya, sebagai alat utama
untuk mewujudkan pengalaman batin yang sulit diungkapkan dengan bahasa verbal.
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli - Agustus
90
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS)
Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 90-93
http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs
ISSN : 2963-5802
Karya ini terinspirasi oleh para seniman vokal eksperimental seperti Meredith Monk dan Rully Shabara
yang mempersembahkan vokal sebagai ruang emosional, bukan sekadar penyampai melodi. Pendekatan
mereka memperkuat keyakinan bahwa musik modern mampu menggali dimensi psikologis dan emosional
manusia dengan lebih mendalam melalui eksplorasi suara tubuh. Dengan demikian, Katarsis Vokal bukan
hanya sebuah karya musik, tetapi juga pencatatan perjalanan emosional, refleksi pribadi, dan eksperimen
artistik yang menggabungkan seni, psikologi, dan eksistensi manusia.
METODE PENELITIAN
Metode pengkaryaan Katarsis Vokal dirancang menggunakan pendekatan kualitatif kreatif dengan
orientasi eksploratif dan eksperimental. Pendekatan ini berfokus pada tubuh manusia, khususnya suara,
sebagai instrumen utama. Prosesnya tidak mengikuti pola musik konvensional, melainkan berdasarkan intuisi
emosional, improvisasi, dan refleksi personal.
1. Desain Pengkaryaan
Model pengkaryaan mengacu pada kerangka empat tahap proses kreatif Graham Wallas (1926):
a. Persiapan: Pengumpulan ide dan inspirasi melalui studi literatur mengenai katarsis, psikologi musik,
serta analisis karya seniman eksperimental (misalnya Meredith Monk dan Rully Shabara).
b. Inkubasi: Periode perenungan dan eksplorasi bunyi vokal non-konvensional (gumaman, napas berat,
teriakan) tanpa struktur baku, untuk menemukan identitas suara unik yang akan diangkat.
c. Iluminasi: Munculnya gagasan komposisi utuh berupa alur dramaturgi emosi (ketegangan, klimaks,
pelepasan).
d. Verifikasi: Penyempurnaan karya melalui latihan berulang, uji performa, dan masukan dari dosen
pembimbing serta talent.
2. Teknik Eksplorasi Vokal
Teknik yang digunakan menekankan kebebasan suara (free vocal exploration) dengan langkah:
a. Improvisasi Spontan: Mengeluarkan bunyi sesuai kondisi emosional pencipta.
b. Repetisi dan Variasi: Mengulang bunyi (gumaman, napas, teriakan) dengan variasi dinamika, tempo,
dan resonansi.
c. Dramaturgi Emosional: Menyusun perjalanan bunyi dari intensitas rendah menuju puncak emosi.
3. Tempat dan Waktu
Eksplorasi dilakukan di ruang pribadi untuk menciptakan atmosfer aman, kondusif, dan bebas
tekanan sosial. Ruang tersebut juga dipilih karena memungkinkan pengaturan akustik sederhana dan
privasi penuh. Proses pengkaryaan berlangsu (...truncated)