Komposisi Musik Katarsis Vokal

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Jul 2025

This article explores the creation of the contemporary music composition Katarsis Vokal, which utilizes the human voice as the primary instrument. The work was born from the need for emotional expression through the exploration of non-conventional sounds such as humming, heavy breathing, and screaming. The creative process included stages of preparation, vocal exploration, dramaturgical structuring, and verification of the work. The results show that free vocal exploration can serve as both an artistic medium and a space for emotional catharsis for both the creator and the audience. In addition to contributing to the development of contemporary music, this work emphasizes that the human voice is the most authentic instrument for conveying deep emotions.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3453/2444

Komposisi Musik Katarsis Vokal

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 90-93 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Komposisi Musik Katarsis Vokal 1 1 Tania Rahmawati Hidayat, 2Denden Setiaji, 3Arni Apriani Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, 2 Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, 3 Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Abstrak Artikel ini membahas pengkaryaan musik kontemporer Katarsis Vokal yang menggunakan suara tubuh manusia sebagai instrumen utama. Karya ini lahir dari kebutuhan ekspresi emosional melalui eksplorasi bunyi non-konvensional seperti gumaman, napas berat, dan teriakan. Proses pengkaryaan dilakukan dengan tahapan persiapan, eksplorasi suara, penyusunan struktur dramaturgis, dan verifikasi karya. Hasil pengkaryaan menunjukkan bahwa eksplorasi vokal bebas dapat menjadi medium artistik sekaligus ruang katarsis emosional bagi pencipta dan audiens. Selain memberikan kontribusi pada perkembangan musik kontemporer, karya ini juga menegaskan bahwa suara manusia adalah instrumen paling otentik untuk menyampaikan emosi terdalam. Kata Kunci: Katarsis vokal, musik kontemporer, pengkaryaan musik, eksplorasi vokal, ekspresi emosional . Abstract This article explores the creation of the contemporary music composition Katarsis Vokal, which utilizes the human voice as the primary instrument. The work was born from the need for emotional expression through the exploration of nonconventional sounds such as humming, heavy breathing, and screaming. The creative process included stages of preparation, vocal exploration, dramaturgical structuring, and verification of the work. The results show that free vocal exploration can serve as both an artistic medium and a space for emotional catharsis for both the creator and the audience. In addition to contributing to the development of contemporary music, this work emphasizes that the human voice is the most authentic instrument for conveying deep emotions. Keywords: Vocal catharsis, contemporary music, musical creation, vocal exploration, emotional expression. This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Musik telah lama dianggap sebagai medium universal yang mampu menyuarakan pengalaman batiniah manusia. Dalam konteks etnomusikologi, musik lebih dari sekadar serangkaian nada; ia merupakan perwujudan emosi, identitas, dan spiritualitas yang terintegrasi dalam kehidupan manusia (Merriam, 1964; Nettl, 2005). Sejak zaman prasejarah, tubuh manusia telah berfungsi sebagai alat pertama untuk menghasilkan bunyi melalui tepukan, hentakan, hembusan napas, hingga teriakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa suara manusia adalah sumber musik paling kuno dan paling autentik dalam mengekspresikan emosi. Dalam arena musik masa kini, konsep ini semakin ditegaskan oleh kemunculan karya-karya eksperimental yang menjelajahi vokal melampaui batas-batas tradisional. Penjelajahan terhadap suara tubuh yang tidak terikat oleh melodi dan harmoni yang baku memberikan kebebasan artistik, membuka peluang baru dalam proses kreatif. Seperti yang diungkapkan oleh Wishart (1996), suara alami dari tubuh manusia memiliki kedalaman emosional yang signifikan karena keaslian sumbernya, yang dapat menciptakan pengalaman estetik sekaligus mendatangkan efek terapeutik. Ide katarsis, seperti yang diuraikan oleh Aristoteles dalam karya Poetika, melihat seni sebagai alat untuk membersihkan emosi melalui pengalaman estetik. Dalam kerangka ini, kreasi musik dapat menjadi sarana sublimasi di mana emosi kuat seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan dapat diekspresikan dalam bentuk suara. Ini sejalan dengan teori musik psikologis yang mengemukakan bahwa suara manusia memiliki kemampuan afektif untuk merangsang resonansi emosional, baik bagi penciptanya maupun pendengarnya (Koelsch, 2010). Katarsis Vokal muncul dari kebutuhan pribadi penciptanya untuk menyalurkan beban emosional melalui proses kreatif. Pengalaman akademik yang penuh tekanan dan perjuangan mental di semester terakhir studi menjadi sumber inspirasi utama. Pencipta pun memilih tubuhnya, terutama suaranya, sebagai alat utama untuk mewujudkan pengalaman batin yang sulit diungkapkan dengan bahasa verbal. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli - Agustus 90 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 1 (2025): Juli – Agustus Hal. 90-93 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs ISSN : 2963-5802 Karya ini terinspirasi oleh para seniman vokal eksperimental seperti Meredith Monk dan Rully Shabara yang mempersembahkan vokal sebagai ruang emosional, bukan sekadar penyampai melodi. Pendekatan mereka memperkuat keyakinan bahwa musik modern mampu menggali dimensi psikologis dan emosional manusia dengan lebih mendalam melalui eksplorasi suara tubuh. Dengan demikian, Katarsis Vokal bukan hanya sebuah karya musik, tetapi juga pencatatan perjalanan emosional, refleksi pribadi, dan eksperimen artistik yang menggabungkan seni, psikologi, dan eksistensi manusia. METODE PENELITIAN Metode pengkaryaan Katarsis Vokal dirancang menggunakan pendekatan kualitatif kreatif dengan orientasi eksploratif dan eksperimental. Pendekatan ini berfokus pada tubuh manusia, khususnya suara, sebagai instrumen utama. Prosesnya tidak mengikuti pola musik konvensional, melainkan berdasarkan intuisi emosional, improvisasi, dan refleksi personal. 1. Desain Pengkaryaan Model pengkaryaan mengacu pada kerangka empat tahap proses kreatif Graham Wallas (1926): a. Persiapan: Pengumpulan ide dan inspirasi melalui studi literatur mengenai katarsis, psikologi musik, serta analisis karya seniman eksperimental (misalnya Meredith Monk dan Rully Shabara). b. Inkubasi: Periode perenungan dan eksplorasi bunyi vokal non-konvensional (gumaman, napas berat, teriakan) tanpa struktur baku, untuk menemukan identitas suara unik yang akan diangkat. c. Iluminasi: Munculnya gagasan komposisi utuh berupa alur dramaturgi emosi (ketegangan, klimaks, pelepasan). d. Verifikasi: Penyempurnaan karya melalui latihan berulang, uji performa, dan masukan dari dosen pembimbing serta talent. 2. Teknik Eksplorasi Vokal Teknik yang digunakan menekankan kebebasan suara (free vocal exploration) dengan langkah: a. Improvisasi Spontan: Mengeluarkan bunyi sesuai kondisi emosional pencipta. b. Repetisi dan Variasi: Mengulang bunyi (gumaman, napas, teriakan) dengan variasi dinamika, tempo, dan resonansi. c. Dramaturgi Emosional: Menyusun perjalanan bunyi dari intensitas rendah menuju puncak emosi. 3. Tempat dan Waktu Eksplorasi dilakukan di ruang pribadi untuk menciptakan atmosfer aman, kondusif, dan bebas tekanan sosial. Ruang tersebut juga dipilih karena memungkinkan pengaturan akustik sederhana dan privasi penuh. Proses pengkaryaan berlangsu (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/3453/2444
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/3453/2444

Tania Rahmawati Hidayat, Arni Apriani, Deden Setiaji. Komposisi Musik Katarsis Vokal, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2025, pp. 90-93,