Problematika Penerapan Komunikasi Dua Arah Dalam Public Relations Digital Di Era Media Sosial

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, Apr 2026

This study aims to analyze the application of two-way communication in digital Public Relations practices in the social media era and identify the problems that contribute to its suboptimal implementation. This study used a descriptive quantitative approach with content analysis. Data were obtained from 10 posts on the Instagram account @Infosumbar within the past two months that had a high level of interaction, including audience comments and admin responses. The results show that audience interaction is high, but admin responses are still low, at 3.9%. This indicates that the communication is not yet dialogic and is still dominated by a one-way pattern. Based on James E. Grunig's concept of two-way communication, this condition indicates the lack of feedback, dialogic interaction, and ongoing relationships. The problems identified include low admin responses and suboptimal management of interactions with the audience.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/4609/3576

Problematika Penerapan Komunikasi Dua Arah Dalam Public Relations Digital Di Era Media Sosial

Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 583-590 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/4609 ISSN : 2963-5802 Problematika Penerapan Komunikasi Dua Arah Dalam Public Relations Digital Di Era Media Sosial Fadhil Muhammad Husain Program Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas, Submitted: 11-04-2026, Reviewed: 12-04-2026, Accepted: 13-04-2026 Abstract This study aims to analyze the application of two-way communication in digital Public Relations practices in the social media era and identify the problems that contribute to its suboptimal implementation. This study used a descriptive quantitative approach with content analysis. Data were obtained from 10 posts on the Instagram account @Infosumbar within the past two months that had a high level of interaction, including audience comments and admin responses. The results show that audience interaction is high, but admin responses are still low, at 3.9%. This indicates that the communication is not yet dialogic and is still dominated by a one-way pattern. Based on James E. Grunig's concept of twoway communication, this condition indicates the lack of feedback, dialogic interaction, and ongoing relationships. The problems identified include low admin responses and suboptimal management of interactions with the audience. Keywords: Two-Way Communication, Public Relations, Social Media Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan komunikasi dua arah dalam praktik Public Relations digital di era media sosial serta mengidentifikasi problematika yang menyebabkan belum optimalnya penerapan komunikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode analisis isi (content analysis). Data diperoleh dari 10 postingan pada akun Instagram @Infosumbar dalam periode dua bulan terakhir yang memiliki tingkat interaksi tinggi, meliputi komentar audiens dan respons admin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi audiens tergolong tinggi, namun respons admin masih rendah, yaitu sebesar 3,9%. Hal ini mengindikasikan bahwa komunikasi yang terjadi belum bersifat dialogis dan masih didominasi oleh pola satu arah. Berdasarkan konsep komunikasi dua arah dari James E. Grunig, kondisi ini menunjukkan belum terpenuhinya unsur umpan balik, interaksi dialogis, dan hubungan berkelanjutan. Adapun problematika yang ditemukan meliputi rendahnya respons admin dan belum optimalnya pengelolaan interaksi dengan audiens. Kata Kunci : Komunikasi Dua Arah, Public Relations, Media Sosial This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4.0 CC-BY International license PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi digital dan komunikasi telah mendorong transformasi besar dalam praktik Public Relations, khususnya dengan hadirnya media sosial sebagai alat komunikasi utama antara organisasi, dan publik [1]. Kemajuan teknologi yang terus berkembang menyebabkan media massa mengalami transformasi dari bentuk konvensional menuju media berbasis digital [2]. Perubahan ini membuat masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cara-cara tradisional dalam mencari, memperoleh, maupun menyebarkan informasi, karena teknologi digital memungkinkan distribusi informasi yang lebih cepat, luas, dan interaktif [3]. Perubahan tersebut juga mendorong munculnya berbagai platform komunikasi digital yang memudahkan individu maupun organisasi dalam berinteraksi dengan publiknya. Media sosial merupakan platform digital yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan, berbagi, serta mendistribusikan informasi dan gagasan melalui jaringan virtual secara online. Melalui media sosial, masyarakat dapat berkomunikasi secara cepat dan instan menggunakan berbagai aplikasi yang tersedia pada perangkat digital seperti smartphone [4]. Dalam perkembangannya, berbagai platform media sosial telah digunakan secara luas di seluruh dunia, seperti Facebook, YouTube, Instagram, LinkedIn, dan Twitter. Platform-platform tersebut menyediakan berbagai fitur komunikasi yang memungkinkan interaksi sosial berlangsung secara lebih terbuka dan dinamis [5]. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, jenis dan fungsi media sosial juga terus mengalami inovasi sehingga semakin banyak platform baru yang muncul dan digunakan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan komunikasi, termasuk dalam bidang bisnis, pendidikan, maupun praktik Public Relations [6]. Dalam praktik Public Relations, media sosial menjadi salah satu alat komunikasi strategis yang digunakan untuk membangun antara organisasi dan publiknya, media sosial memungkinkan organisasi untuk berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat tanpa harus melalui perantara media massa [7]. Selain itu, media sosial juga memberikan ruang bagi publik untuk memberikan respons, komentar, maupun kritik terhadap informasi yang disampaikan oleh organisasi. Kehadiran media sosial bahkan telah mengubah praktik Public Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol.04 No. 05 Maret-April 2026 583 Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) Vol. 4 No. 5 Maret-April 2026 Hal. 583-590 http://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/4609 ISSN : 2963-5802 Relations yang sebelumnya cenderung bersifat komunikasi satu arah menjadi komunikasi yang lebih interaktif dan partisipatif [8]. Perkembangan ini menandai perubahan paradigma dalam praktik Public Relations dari komunikasi satu arah menuju komunikasi dua arah yang lebih dialogis dan partisipatif [9]. Grunig dan Hunt dalam penelitian (Tresnoati, 2026) [10] menjelaskan bahwa komunikasi dua arah yang simetris merupakan model komunikasi ideal dalam praktik Public Relations karena memungkinkan adanya pertukaran informasi dan pemahaman yang seimbang antara organisasi dan publik (Grunig & Hunt, 1984). Konsep ini menekankan pentingnya dialog serta umpan balik antara organisasi dan publik dalam membangun hubungan yang saling menguntungkan [11] Penelitian (Zaxrie et al., 2024)[12] mengenai Peran Media Sosial Sebagai Saluran Komunikasi Digital Dalam Kehumasan, menunjukkan bahwa media sosial memiliki potensi besar dalam menciptakan komunikasi dua arah yang interaktif dan demokratis antara organisasi dan publik. Media sosial memungkinkan organisasi untuk lebih responsif terhadap umpan balik public serta mendorong terciptanya komunikasi yang partisipatif dan interaktif [13]. Hal ini sejalan dengan konsep komunikasi dua arah dalam public relations yang menekankan pentingnya dialog, timbal balik, dan keterlibatan aktif anatara kedua belah pihak. Dalam perspektif teoritis, komunikasi dua arah merupakan prinsip fundamental dalam membangun hubungan yang efektif dan berkelanjutan antara organisasi dan publik [14]. Dalam penelitian (Rizkiana et al., 2026) menegaskan bahwa komunikasi yang efektif dalam Public Relations ditandai oleh adanya transparansi, konsistensi, serta interaksi dua arah yang berkelanjutan dengan stakeholder. Komunikasi dua arah tidak hanya menjadi konsep normatif, tetapi jga me (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/download/4609/3576
Article home page: https://jurnal.minartis.com/index.php/jishs/article/view/4609/3576

Fadhil Muhammad Husain. Problematika Penerapan Komunikasi Dua Arah Dalam Public Relations Digital Di Era Media Sosial, Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni, 2026, pp. 583-590,